“Aku mencintainya namun angin hanya membawa senyumnya padaku, Aku menginginkannya namun mentari hanya memberi kehangatannya sebagai kawan. Aku merindukannya seperti laila yang tak sanggup lagi bernafas karna kehilangan majnun” Aku berusaha mendengar suara angin ditengah hiruk pikuk mereka, namun bukan angin yang kudengar tetapi suaranya yang sempat berkali-kali menggetarkan hatiku. Aku ingin tetap terpejam menunggu sebuah kepastian yang takkan pernah tiba, yah karna angin tak berhembus diruang sempit ini dan bukan karna aku ingin terus menanti suara angin, hanya saja aku sedang tak ingin memandang matanya dan melihat senyum itu, senyum yang melelahkan hati dan mata yang tajam menghujam, senyummu yang tanpa kusadari membuatku jatuh untuk pertama kali. Sayup-sayup kudengar suara lain yang menyapamu “sayang...” dan kemudian berlanjut dengan sebuah teguran padaku “Cinta ..?!” aku segera membuka mata dan melempar senyum untuk pemilik suara cantik itu, ia yang telah bergelanyut manja dileng...
Catatan makhluk super bimbang, tetang hidup yang kuat atau menjadi lebih kuat, tentang wanita-wanita yang berusaha menjadi super