Skip to main content

MEMAHAPI KONSEP TAPAK EKOLOGI DAN KAITANNYA DENGAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN (CARRIYING CAPACITY)

Konsep jejak kaki ekologis diperkenalkan pada tahun 1990-an oleh Wiliam Rees dan Mathis Wackernagel (Wackernagel and Ress, 1996). Konsep yang dikemukakan oleh dua orang tersebut bekerja sebagai alat ukur yang mengkaji tingkat konsumsi manusia dan dampaknya terhadap lingkungan. Seperti yang telah diketahui Tapak ekologi ini merupakan konsep untuk mencermati pengaruh manusia terhadap cadangan dan daya dukung bumi.
Memahami tapak ekologi memungkinkan untuk melihat seberapa besar kekayaan alam (renewable) yang masih tersisa, dan seberapa besar pengaruh konsusmsi manusia terhadapa ketersediaannya. Pada adasarnya tapak ekologi ini merupakan suatu perangkat untuk melihat, mengetahui dan menganalisis suatu kegiatan manusia di bumi sehingga dapat mengukur dan mengkomunikasikan dampak pemanfaatan sumberdaya pada setiap lingkungan yang berkaitan di bumi.
Melihat tapak ekologi memaksa kita untuk melihat kemampuan lingkungan pula, karena keduanya saling berkaitan. Kemampuan/daya dukung lingkunga yang lebih dikenal dengan carriying capacity mengandung pengertian kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang panjang. Daya dukung lingkungan dapat pula diartikan kemampuan lingkungan memberikan kehidupan organisme secara sejahtera dan lestari bagi penduduk yang mendiami suatu kawasan.
Aspek carriying capacity yang mungkin terjadi dapat dicontohkan sebagai berikut:
a. Pada tanaman pangan
Pada tanaman pangan(padi) aspek yang mungkin terjadi dilihat berdasarkan penduduk atau petani yang berbanding lurus dengan makanan pokok penduduk indonesia yang sebagian besar adalah beras. Hal ini yang menyebabkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut petani melakukan penanaman padi secara monokultur dan besar-besaran dan praktek budidaya yang intensif, baik dalam pengolahan tanaman dan lahan maupun pemberantasan hama dan penyakit yang tanpa disadari petani hal tersebut berkaitan dengan daya dukung lahan tersebut dan output/produksi yang dihasikan.
Daya dukung lingkungan terhadap tanaman padi yaitu padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan, angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan, padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7. Pengelolaan lahan secara ringan dapat dilakukan seperti pada umur 20 HST, bertujuan untuk sirkulasi udara dalam tanah, yaitu membuang gas beracun dan menyerap oksigen.
b. Tanaman hortikultura
Daya dukung lingkungan terhadap tanaman hortikultura dapat dicontohkan dengan tanaman jeruk. Dalam budidaya tanaman jeruk harus memenuhi syarat tumbuh agar dapat tumbuh dengan baik. Daya dukung lingkungan terhadap tanaman jeruk yaitu dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 30°, temperatur optimal antara 25-30°C, kelembaban optimum sekitar 70-80%, jenis tanah yang cocok yaitu Andosol dan Latosol, air tanah optimal berada pada kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah, pH tanah 5,5-6,5 dengan pH optimum 6, tinggi tempat tergantung pada spesies jeruk, dan semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari,
Apabila syarat tumbuh tanaman jeruk tidak terpenuhi maka tanaman jeruk akan tumbuh kurang sehat, sehingga produksinya akan menurun. Apabila terjadi pengolahan secara intensif pada lahan, maka juga akan berdampak pada ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Karena pembalikan tanah dapat berdampak pada hilangnya unsur hara yang seharusnya tersedia dalam tanah dalam waktu cukup lama akan hilang.
Ketidak paduan antara nilai jejak ekologi dan kemampuan lingkungan dalam menopangnya dapat menimblkan dampak negatif meski hingga saat ini manusia selalu menemukan solusi baik yang instan maupun berlanjut yang terus diusahakan. Masa pertanian tradisional maupun pada saat “Revolusi Hijau” berdampak pada daya dukung dari lahan menjadi berkurang. Praktek pertanian modern, penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai, dan perencanaan penggunaan lahan yang baik merupakan langkah pertama dalam praktek pertanian modern, penerapan  teknik konservasi tanah dan air yang memadai dan perencanaan penggunaan lahan. Penggunaan lahan yang tepat adalah salah satu bagian dari konservasi tanah dan air yang merupakan penempatan setiap bidang tanah sesuai kemampuannya.
Penggunaan lahan yang tepat merupakan salah satu bagian dari konservasi tanah dan air. Penempatan setiap bidang tanah pada penggunaan yang sesuai dengan kemampuannya dan memperlakukannya sesuai syarat-syarat yang diperlukan, maka tanah tersebut tidak akan mengalami kerusakan sehingga dapat menjamin produktivitas yang tinggi. Dampak dari penggunaan teknologi-teknologi modern dapat mempengaruhi daya dukung lahan dalam penggunaan bercocok tanam, misalnya penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetis. Karena teknologi-teknologi modern dapat merusak sifat fisik tanah dan mengurangi tingkat kesuburan tanah. Misalnya yaitu penggunaan pestisida secara berlebihan akan mencemari lingkungan baik udara, air, maupun tanahnya. Hal ini yang menjadi kendala dalam proses pendayagunaan lahan secara maksimal.
Solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya dukung lahan terhadap tanaman budidaya yaitu dengan cara meminimalisir input dari luar (pupuk, bibit, pestisida), mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia, apabila memang diperlukan menggunakan pestisida maka harus digunakan dengan tepat sasaran, penggunaan bibit unggul dan pemberantasan hama penyakit tanaman secara terpadu, serta mengurangi pengolahan tanah yang sekarang ini sangat intensif. Sistem pertanian tersebut dapat diterapkan dengan jalan sistem pertanian berlanjut sehingga akan menghasilkan produktivitas yang maksimal.
Komponen yang dianalisis dalam tapak ekologi adalah penggunaan energi langsung oleh manusis baik dalam jangka waktu sehari maupun kelipatannya, diantaranya adalah :
  • Material dan limbah, biasa diukur berdasarkan seberapa banyak limbah dan material yang dapat kita hasilkan dalam sehari yang selanjutnya akan dikalikan dengan lama waktu yang digunakan
  • Pangan, kebutuhan pangan yang dibutuhkan dihitung perorangan apabila tapak ekologi yang akan diukur merupakan tapak ekologi individu begitu juga dengan material dan limbah. Berapa anyak pengeluaran yang digunakan suatu individu dalam melengkapi kebutuhan yang berkaitan dengan pangan.
  • Transport personal, dalam kurun waktu yang sama pada komponen sebelumnya, di setiap kegiatan yang dilakukan individu tranport yang digunakan dapat menjadi satuan yang juga diukur dalam tapak ekologi, baik individu tersebut menggunakan transportasi umum maupun pribadi dan bahkan dengan berjalan.
  •  Air
  • Bangunan

Semua sapek yang dapat dihitung dengan satuan tapak ekologi menjadi komponen yang masuk dalam proses analisis tapak ekologi sehingga dapat diketahui apakah keberadaan kita sesuai dengan daya dukung bumi yang ada atau merugikan bagi daya dukung bumi untuk keberlanjutan sistemnya.

Perhitungan ekologi footprint selalu didasari dengan lima asumsi (venetoulis dan thalberth, 2005) sebagai berikut :
  • Sangat mungkin menelusuri jejak hampir semua sumberdaya yang dikonsumsi orang dan limbah yang dihasilkannya, informasi ini dapat ditemukan di kantor statistik.
  •  Hampir semua sumberdaya dan limbah dapat dikonversi menjadi area produktif biologis yang dibutuhkan untuk memelihara aliran tersebut.
  •  Perbedaan area dapat diekspresikan dalam satu unit yang sama (hektar atau are) yang disebut dengan skala proporsional. Sesudah tiap ukuran lahan distandarisasi yang menunjukkan jumlah yang sama dari produktivitas biomassa, maka dapat ditambah dengan jumlah permintaan yang ditunjuk oleh manusia.
  • Area bagi total untuk permintaan manusia ini dapat dibandingkan dengan jasa ekologis yang ditawarkan alam, saat itulah kita dapat menaksir area produktif diatas planet.

Terjadinya degradasi lingkungan karena pemenuhan kebutuhan hidup lebih besar daripada carryng capacity!

Degradasi lingkungan karena pemenuhan kebutuhan kehidupan lebih besar daripada daya dukungnya (carrying capacity). Dalam kondisi alami, lingkungan dengan segala keseragaman interaksi yang ada mampu menyeimbangkan keadaannya. Namun tidak tertutup kemungkinan, kondis seperti itu dapat berubah dengan campur tangan manusia dengan segala aktivitas pemenuhan kebutuhan yang terkadang melampaui batas. Hal seperti ini berkaitan dengan kerusakan lingkungan baik aspek tanah maupun aspek lainnya yang disebabkan dengan ketidak sanggupan suatu lingkungan untuk terus memenuhi kebutuhan individu yang ada, dapat dikatakan terjadi defisit pada lingkungan tersebut sehingga lingkungan menjadi rusak. Suatu lingkungan yang awalnya sebagian besar wilayahnya merupakan lahan budidaya misalnya, sehingga kebutuhan individu didalamnya terpenuhi dengan baik karena disana pengeluaran tidak lebih besar dibanding pemasukan. Namun kita lihat beberapa tahun kemudian saat lahan-lahan budidaya berubah menjadi rumah-rumah warga, saat itulah degradasi lingkungan mulai terjadi. Petani menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan produksinya dengan luasan lahan yang semakin menyempit, produksi meningkat namun lingkungan menjadi rusak dan daya dukung terus menurun. Dapat dikatakan pula semakin padat populasi manusia menjadikan lahan yang semula produktif menjadi tidak produktif. Demi memenuhi kebutuhan dengan adanya lahan yang minim maka terjadi pengolahan pertanian secara intensif yang pada satu sisi meningkatkan usaha tani namun merugikan dalam aspek lingkungan.


Sumber

Wackernagel, Mathis and W. Rees. Our Ecological Footprint. Gabriola Island, BC: New Society Publishers, 1996.

Comments

Popular posts from this blog

SAAT HATI BICARA : Yang Pertama Untuk Cinta

“Aku mencintainya namun angin hanya membawa senyumnya padaku, Aku menginginkannya namun mentari hanya memberi kehangatannya sebagai kawan. Aku merindukannya seperti laila yang tak sanggup lagi bernafas karna kehilangan majnun” Aku berusaha mendengar suara angin ditengah hiruk pikuk mereka, namun bukan angin yang kudengar tetapi suaranya yang sempat berkali-kali menggetarkan hatiku. Aku ingin tetap terpejam menunggu sebuah kepastian yang takkan pernah tiba, yah karna angin tak berhembus diruang sempit ini dan bukan karna aku ingin terus menanti suara angin, hanya saja aku sedang tak ingin memandang matanya dan melihat senyum itu, senyum yang melelahkan hati dan mata yang tajam menghujam, senyummu yang tanpa kusadari membuatku jatuh untuk pertama kali. Sayup-sayup kudengar suara lain yang menyapamu “sayang...” dan kemudian berlanjut dengan sebuah teguran padaku “Cinta ..?!” aku segera membuka mata dan melempar senyum untuk pemilik suara cantik itu, ia yang telah bergelanyut manja dileng...

ENERGI TERBARUKAN (Solusi Ramah Lingkungan bagi Pemanasan Global yang terus diusahakan)

EMPAT JENIS TUMBUHAN ENERGI YANG BANYAK DITEMUKAN Krisis bahan bakar akibat terus menipisnya persediaan minyak bumi diperkirakan akan terus terjadi. Lonjakan harga minyak akan semakin drastis dan akan menyebabkan berbagai krisis lainnya. Hal ini menarik sebagian pemikir di seluruh dunia untuk menemukan solusi yang cukup berarti, meskipun hingga saat ini belum benar-benar ditemukan pengganti minyak bumi yang diakui dan dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Biofuel_ bahan bakar nabati berbasis tumbuh-tumbuhan, merupakan solusi yang sudah cukup lama dicetuskan atau telah dimanfaatkan sejak zaman dahulu meskipun saat ini belum benar-benar menggantikan kebutuhan minyak bumi berbasis bahan bakar bagi kehidupan sehari-hari, hingga saat ini Biofuel masih digunakan dalam skala industri dengan presentasi yang kecil. Dengan mulai megupayakan bahan bakar nabati, pada dasarnya kita juga mulai mendongkrak kemajuan pertanian indonesia sendiri dengan mulai melibatkan petani d...

BABY STEPS INTO GIANT STRIDE

Payangan - Jember Judul ini saya petik dari anime yang saya tonton selama berbulan-bulan, maklum episodenya banyak. Saya 23 tahun, sudakah pantas dipanggil wanita? Saya rasa belum. Tapi saya pastikan terus berusaha hingga layak memperoleh gelar wanita. Menjadi seoang wanita artinya kamu sedang melakukan perjalanan karenanya setiap wanita harus yakin bahwa “a baby steps will become giant stride someday”. Suatu hari langkah-langkah kecil yang diibaratkan seperi baby steps akan berubah menjadi sangat mengena bak jejak raksasa, terutama bagi diri kita. Pengalaman yang tanpa sengaja kamu lalui atau dengan sengaja kamu pilih akan membawamu menjadi wanita terhebat bagi dirimu tentunya. Adakalanya kamu akan menangis sendiri di kamar yang gelap, dan esoknya tersenyum dengan bangga diantara rekan kerja. Adakalanya kamu akan sangat lelah mengurus rumah meski masih dengan ceria menyambut kedatang yang tercinta. Suatu hari kamu hanya ingin tertawa bebas tanpa dipandang aneh atau jelek ...