Buta Terhadap Salinitas Lahan
(Berkurangnya luas lahan pertanian,
meningkatnya alih fungsi lahan)
Laut dan pantai sepanjang mata memandang kadang
terselip tambak, itulah kampung halaman saya. Aha ada ladang penduduk tapi
selalu tampak kering, kadang ditumbuhi jagung, tapi saya selalu bingung
tetangga saya sedang bertanam rumput atau jagung. sering saya lihat mereka
menjual hasil panen cabai, tapi selalu mengeluh meski sambil tersenyum.
Jangankan melihat padi tumbuh subur, tanah sawah mereka terus mengering bila
tidak diguyur air PDAM. Sebelum tahun 2015 mungkin, tambak ayah selalu dihujani
udang-udang sehat, tapi sekarang tidak merugi bisa membuat tersenyum dan ucapan
syukur menggema. Kenapa bisa begini, bagaimana bisa meningkatkan/menguntungkan
kembali? mungkin kita bertanya-tanya, tapi selalu tak menemukan jawaban.
Akhirnya banyak ladang-ladang yang dibiarkan tertutup semak, sebagian dibeli
suatu industri, sebagian tetap ditanami tapi hanya sebagai sampingan yang
artinya tidak diharapkan dan tidak dioptimalkan.
Inti masalahanya adalah lahan yang tidak dapat
menopang pertumbuhan tanaman dengan optimal, hasil ternak udang yang terus
merosot, merebahnya tempat-tempat wisata sehingga banyak terjadi alih fungsi
lahan. selain itu sebagian besar penduduk akan beralih profesi, tidak lagi
bergantung pada lahan mereka yang hasilnya kurang memuaskan. Sangat
disayangkan, karna dalam pandangan saya selalu terbayang desa wisata yang
penduduknya tersenyum di tengah ladang diantara tanaman yang tersenyum,
ayah-ayah kami bekerja di tepi tambak dengan topi koboynya dan wajah puas mereka,
puas karna panen udang tahun ini tidak merugi meski untung tak seberapa. Wah ini curhat namanya, bukan ngilmu wkwk
Akhirnya, I’m, somebody who want to know/carious about
“why our village land are poorly” searching at Nyai Google. I found, sesuatu
yang di sebut “Salinitas”, “Salinitas Lahan” dan “Degradasi Lahan”. Wah panganan
opoi mbak? Guduk panganan dek iki setrikoan. Saya katakan bahwa kampung saya adalah
daerah di sepanjang pantai, sepanjang jalan utamanya tampak pantai, entah itu
di balik rumah penduduk, balik pohon sampai balik bapak-bapak yang lagi pipis
sembarangan pasti keihatan laut dan pantai.
Salinitas merupakan cekaman abiotik, umumnya
disebabkan kandungan garam yang tinggi sehingga menyebabkan terganggunya
produktivitas dan pertumbuhan tanaman. Sehingga dapat dikatakan salinitas lahan
adalah cekaman yang terjadi pada lahan khususnya lahan-lahan pertanian yang
mengakibatkan menurunnya tingkat produksi dan kualitas produksi tanaman maupun
kualitas tanah pada lahan tersebut. Menurunya kemampuan tanah dalam menopang
kehidupan diatasnya disebabkan oleh faktor-faktor tertentu dapat dikatakan
bahwa lahan tersebut telah mengalami degradasi (penurunan kualitas). Salinisasi
suatu lahan atau area kemungkinan besar tidak dapat dihentikan apalagi bila
area tersebut relatif dekat dengan sumber air laut, bukannya neganif thingking.
Berdasarkan data tingkat salinitas air laut diperkirakan akan
terus mengalami peningkatan, sedangkan pada umumnya daerah sekitar pantai
memiliki iklim relatif kering sehingga evaporasi lebih tinggi. Gampangnya cara
menanggulangi salinitas lahan adalah dengan mengirigasi lahan sesuai kebutuhan,
dibutuhkan air saat melakukan irigasi, apabila hujan tidak datang maka air akan
sulit diperoleh atau kandungan garam dalam air lokal akan meningkat. Meningkatnya
kandungan garam dalam air dapat disebabkan terangkatnya garam dari dalam tanah
yang ikut terangkat sebagai bentuk pertahanan tanah dan tanaman oleh cekaman
kekeringan. Apabila air yang digunakan untuk irigasi memiliki kandungan garam
dan diaplikasikan terus menerus pada tanah maka salinitas tanah akan meningkat.
Singkat kata salinitas lahan pada area berkaitan akan
terjadi disebabkan oleh letak dan kondisi daerah tersebut yang kemudian
dipahami sebagai faktor internal . Tambahkan faktor selanjutnya yakni faktor
eksternal, yakni manusia. Manusia butuh makan agar tetap hidup dan uang untuk
memenuhi kebutuhan dan untuk terus hidup manusia memiliki jejak ekologis. Bagaimana
manusia hidup dalam sehari, berapa banyak ogsiken dan sampah yang dibutuhkan
dan hasilkan dikalikan berapa hari, bulan dan tahun mereka hidup adalah jejak
ekologis. Stop penjelasan jejak ekologis disini. Apabila kita mengandalkan
lahan sebagai mata pencaharian, akan ada kegiatan bertani yang membutuhkan
input lebih seperti pengaplikasian pupuk, obat-obatan kimia juga irigasi bagi
tanaman.
Setelah berbagai usaha dilakukan hasil panen
tidak sesuai keinginan dan merugi karena kondisi tanah yang kurang baik. Penduduk
yang lelah berusaha pada lahan mereka akan mencari solusi lain. Sebagian besar
merubah lahan mereka menjadi tambak, sebagian menjualnya pada industri
pariwisata kemudian dibangun hotel, taman bermain, kolam renang umum, pusat perbelanjaan
dll. Sisanya kurang dari 50 % lahan pertanian akan dibiarkan terbengkalai
akhirnya ditumbuhi rumput liar dan semak, sebagian lagi dibiarkan kering
kerontang karena rumputnya dipotong untuk pakan ternak dan ada juga lahan yang
dimanfaatkan untuk berternak ayam atau bebek. Waw manusia itu survive sekali
ya... dan sebagian besar penduduk akan memilih bekerja di industri pariwisata
tersebut setelah menjual tanah mereka.
Cerita ini seperti bom waktu, atau gelas dan
sedotan?
Semakin sedikit tanaman yang tumbuh pada daerah
tersebut semakin sedikit air yang dapat disimpan dan tanaman yang dapat
menyimpan air padahal kebutuhannya akan semakin meningkat. Hanya karna sudut
pandang salinitas dan ketidaktahuan untuk menanganinya, lahan-lahan pertanian
mulai menghilang, pepohonan mulai berkurang, tempat resapan air mulai menipis
karna jalanan dan halaman mulai diasapal dan di paving. Jangan sampai ada hari
dimana kita tak bisa melakukan apapun.
Sudut pandang salainitas selalu memiliki jalan
keluar, begitu juga dengan sudut pandang lainnya.....
Selalu ada hal yang bisa kita lakukan untuk
memperbaiki, sekecil papun itu. Thankyou for reading
Comments
Post a Comment