![]() |
| Mereka segalanya, tapi kenapa begitu sulit menggenggamnya... |
TERUNTUK AYAH. . .
Bisakah kukatakan maaf?
Karna tak pernah menjadi anak yang
membanggakan
Kita memang tak saling bicara, tapi selalu
meninggalkan makna
Aku menolak bicara, kana takut tampak lemah
Bolehkah aku membenci. . .
Aku menolak bicara, kana takut tampak lemah
Bolehkah aku membenci. . .
Diriku yang rapuh
didekatmu
Ribuan airmata yang menetes
Menggantikan sepatah rasa yang terucap
Ribuan airmata yang menetes
Menggantikan sepatah rasa yang terucap
Ingin kukatakan lelah
Mengapa mata yang memerah
Ingin kurangkul engkau
Tapi hanya bau pecimu yang terasa
Ingin kusentuh tanganmu
Namun jemariku hanya berakhir nelangsa
Ayah
ingin kukatakan rindu
Namun hanya berakhir lewat Ibu. . .
Namun hanya berakhir lewat Ibu. . .
UNTUK
IBUKU TERCINTA
Wahai ibu kukatakan padamu lewat goresan tinta
ini
Dengan tinta airmata cinta
Yang tak pernah sampai padamu. . .
Dengan kerendahan hati ingin kucium kakaimu
Sungguh, ingin sekali kembali kubenamkan kepala
dipangkuanmu
Ya, seperti dulu. . .
Sambil menikmati wajahmu yang berbingkai
ketulusan
Ibu . . .
Sesungguhnya ulatmu yang berhati dingin ini,
Selalu ingin pulang
Namun, apadaya saat kamu menunggunya disana
Ia, terus saja terjatuh pada dahan yang salah
Dan Ibu. . .
Semoga meski ulat ini. . .
Tak sanggup membalas tiap kasih yang kau beri
Anda tetap menguntai do’a untuknya
Hingga akan tiba saat dimana ia menjadi
kupu-kupu
Kemudian terbang dan menemukan taman kasihmu
Terbang dengan sayapnya. . .
Sayap yang kemanapun ia terbang
Selalu teruntai do’a dan restumu
Sayap yang selalu membawanya. . .
Kembali pada taman kasihmu

Comments
Post a Comment