Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2017
Mereka segalanya,  tapi kenapa begitu sulit menggenggamnya... TERUNTUK AYAH. . . Bisakah kukatakan maaf? Karna tak pernah menjadi anak yang membanggakan Kita memang tak saling bicara, tapi selalu meninggalkan makna Aku menolak bicara, kana takut tampak lemah Bolehkah aku membenci. . . Diriku yang rapuh didekatmu Ribuan airmata yang menetes Menggantikan sepatah rasa yang terucap Ingin kukatakan lelah Mengapa mata yang memerah Ingin kurangkul engkau Tapi hanya bau pecimu yang terasa Ingin kusentuh tanganmu Namun jemariku hanya berakhir nelangsa Ayah ingin kukatakan rindu Namun hanya berakhir lewat Ibu. . .   UNTUK IBUKU TERCINTA Wahai ibu kukatakan padamu lewat goresan tinta ini Dengan tinta airmata cinta Yang tak pernah sampai padamu. . . Dengan kerendahan hati ingin kucium kakaimu Sungguh, ingin sekali kembali kubenamkan kepala dipangkuanmu Ya, seperti dulu. ....

Pantaskah Salnitas lahan di pandang sebelah mata?

Buta Terhadap Salinitas Lahan  (Berkurangnya luas lahan pertanian, meningkatnya alih fungsi lahan) Laut dan pantai sepanjang mata memandang kadang terselip tambak, itulah kampung halaman saya. Aha ada ladang penduduk tapi selalu tampak kering, kadang ditumbuhi jagung, tapi saya selalu bingung tetangga saya sedang bertanam rumput atau jagung. sering saya lihat mereka menjual hasil panen cabai, tapi selalu mengeluh meski sambil tersenyum. Jangankan melihat padi tumbuh subur, tanah sawah mereka terus mengering bila tidak diguyur air PDAM. Sebelum tahun 2015 mungkin, tambak ayah selalu dihujani udang-udang sehat, tapi sekarang tidak merugi bisa membuat tersenyum dan ucapan syukur menggema. Kenapa bisa begini, bagaimana bisa meningkatkan/menguntungkan kembali? mungkin kita bertanya-tanya, tapi selalu tak menemukan jawaban. Akhirnya banyak ladang-ladang yang dibiarkan tertutup semak, sebagian dibeli suatu industri, sebagian tetap ditanami tapi hanya sebagai sampingan yang artiny...
BERPALING   Aku mencintainya namun angin hanya membawa senyumnya padaku Aku menginginkannya namun mentari hanya memberi kehangatannya sebagai kawan Aku merindukannya seperti laila yang tak sanggup lagi bernafas karna kehilangan majnun Aku membencinya karna tak pernah berpaling darinya hanya untukku Namun . . . Aku membodohi diriku untuk tetap memandangmu Aku mengikat kakiku agar tak pernah beranjak dari bayangmu Aku membungkam mulutku hingga tak lagi tertawa tanpamu Aku menyayat hatiku hingga tak lagi dapat mersakan sakit karnamu             Aku . . . Aku mencinta, tapi tak pernah tahu akan sepedih ini Aku mengharap tapi tak pernah tahu akan sangat iri Aku merindu tapi tak pernah sempat mengakhiri Aku membenci tapi ingin dicintai Akhirnya . . . Aku ada untuk tetap pergi . . . menawan, meski tau akan layu